Caleg Terpilih Jangan Hanya Dilihat dari Perolehan Suara Pribadi

oleh -
Sri Utami

Wartawan Iyus Firdaus PWI

Sekalipun belum diputuskan secara resmi oleh KPU, daftar caleg terpilih sudah diketahui secara terbuka oleh masyarakat. Dari rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara Pemilu 2019 oleh KPU Kota Sukabumi, masyarakat bisa memperoleh daftar caleg terpilih melalui media massa maupun media sosial.

“Lalu di masyarakat muncul pertanyaan. Mengapa caleg yang perolehan suaranya lebih kecil dapat terpilih? Sementara caleg yang perolehan suaranya lebih besar tidak terpilih. Pertanyaan ini muncul karena masyarakat belum sepenuhnya memahami metoda penentuan jumlah kursi untuk peserta pemilu,” kata Ketua KPU Kota Sukabumi, Sri Utami kepada wartawan, Senin (6/5/2019).

Dalam menentukan jumlah perolehan kursi dan caleg terpilih berdasarkan metoda Sainte Lague, fokus penghitungan bukan pada peroleha suara caleg melainkan pada perolehan suara partai politik. Metoda ini memberlakukan cara menentukan perolehan kursi berdasarkan ranking perolehan suara pada setiap putaran. Penghitungan dilakukan secara berulang sampai semua kursi habis.

Berdasarkan metoda Sainte Lague, perolehan parpol yang telah mendapat kursi harus dibagi bilangan ganjil 3, 5, 7, dan seterusnya jika telah memperoleh satu kursi pada putaran sebelumnya. Dengan demikian, parpol yang peraihan suaranya tidak terlalu signifikan dapat meraih kursi setelah perolehan suara parpol-parpol besar dibagi bilangan ganjil tertentu. 

“Kita lihat secara utuh kursi dari masing-masing peserta pemilu atau partai politik. Otomatis dari dapil yang bersangkutan caleg yang mendapat suara paling tinggi di parpolnya berhak mendapat kursi, walaupun perolehan suaranya hanya beberapa ratus,” ujar Sri.

Untuk Pemilu 2019, lanjut dia, sudah diperoleh gambaran partai politik yang perolehan kursinya naik yaitu PKS dan Partai Gerindra, sedangkan PDI Perjuangan berkurang jumlah kursinya. Prinsip dasarnya, perolehan kursi oleh parpol langsung dialihkan ke caleg yang perolehan suaranya paling tinggi di parpol dan dapil tertentu.

“Sebagian masyarakat tidak paham dengan fakta adanya caleg yang memperoleh suara lebih kecil dibandingkan caleg lainnya bisa menjadi caleg terpilih. Metoda yang diberlakukan harus memperhatikan perolahan suara parpol,” ujar dia.

KPU Kota Sukabumi, lanjut dia, telah menyelesaikan tahapan Pemilu 2019 hingga rapat pleno. Pelaksanaan Pemilu 2019 sesuai target, KPU Kota Sukabumi  menjadi penyelenggara pemilu di daerah yang paling awal kedua dalam menyerahkan Form C1 ke KPU Provinsi Jawa Barat setelah KPU Kabupaten Tasikmalaya.

“Suksesnya pelaksanaan pemilu tidak terlepas dari kerja sama para komisioner dan jajaran sekretariat. Kami telah bekerja secara maksimal, transparan, dan profesional untuk membuahkan hasil yang baik,” tuturnya.

Terkait adanya informasi aksi unjuk rasa oleh masyarakat pada H+7 setelah rapat pleno, Sri tidak mengetahuinya. Karena itu dia merasa kaget ketika pagi-pagi sudah didatangi awak media yang menanyakan rencana aksi tersebut.

“Kami selalu siap untuk melayani publik dan memberikan informasi yang sejelas-jelasnya,” kata Sri. (*)