Pegawai Kosipa Asal Medan Ditemukan Meninggal di Kamarnya

oleh -

Wartawan Raymon Chandra

Pegawai Koperasi Simpan Pinjam (Kosipa) di salah satu lembaga keuangan swasta, Johan Marbun (29) ditemukan tewas di kamar kontrakannya di Kampung Babakan RT 05 RW 07, Desa Karangtengah, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Kamis (21/3/2019).  

Jasad Johan ditemukan sekitar pukul 14.00 WIB oleh rekannya bernama Bambang Sihite (49). Sampai berita ini diturunkan, aparat keamanan dan petugas rumah sakit belum memberikan keterangan seputar penyebab kematian Johan. Mayat Johan sempat dibawa ke RSUD Sekarwangi tapi tidak diotopsi atas permintaan rekan-rekan dan keluarganya.  

Kepada wartawan, Bambang menuturkan, dia menemukan Johan dalam keadaan terbujur kaku dan tidak bergerak. Tubuh Johan dalam posisi ditutupi selimut. Awalnya, ujar Lae Sihite, dia merasa ada yang janggal pada rekannya itu karena seharian tidak tampak keluar rumah.

“Saya penasaran. Lalu saya mendatangi rumah kontraka rekan saya itu untuk melihat keadaannya. Biasa tiap hari kami ketemu, ini sudah setengah hari lebih dia tidak kelihatan. Seterusnya tragis, saya menemukan rekan saya sudah tidak bernyawa dalam keadaan badan sudah kaku,” ungkap Bambang dengan nada sedih.  

Warga pun melaporkan meninggalnya Johan ke Mapolsek Cibadak. Setelah mendapat laporan dari warga,  polisi datang ke rumah kontrakan Johan untuk melakukan pemeriksaan. Berdasarkan pemeriksaan sekilas, polisi tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh Johan.

Polisi pun membawa jasad Johan ke RSUD Sekarwangi. Sebelum dilakukan diotopsi oleh petugas rumah sakit, rekan-rekan sesama perantau dari Sumatera Utara bersikeras mengambil jasad Johan. Mereka menolak proses otopsi berdasarkan keyakinan adat dan tradisi mereka serta keluarganya.  

Oleh rekan-rekannya, jasad Johan dibawa dari rumah sakit sekira pukul 16.00 WIB dengan menggunakan ambulans. Rencananya, Johan akan dimakamkan di kampung halamannya di Kampung Humbahas, Dolok Sanggul, Sumatera Utara. Mayat pria tersebut akan diterbangkan ke Medan dengan pesawat.

“Kami di sini sebagai sesama perantau sudah menjadi keluarga. Kami menolak untuk otopsi karena menurut adat kami serta keluarganya, beliau wafat  sudah dipercayai ditentukan sejak lahir,” jelas Bambang. (*)