Tragedi Lansia Penghuni Rumah Miring di Kampung Tangkil

oleh -

Wartawan Muzayin Aripin

Di usia yang sudah masuk masa senja, mestinya Abah Oji dan Ma Admiyah dapat menikmati hidup dengan tenang dan nyaman. Tapi melihat kondisi rumahnya di Kampung Tangkil RT 04 RW 01 Desa Tangkil, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, harapan tersebut masih jauh dari jangkauan pasangan lansia tersebut.

Rumah Abah Oji dan Ma Admiyah sudah beberapa tahun belakangan ini dalam keadaan miring. Selain itu, tempat tinggal mereka yang seluruhnya terbuat dari kayu, bambu, dan berdinding bilik bambu bisa dimasukkan ke dalam kategori rumah tidak layak huni (RTLH). Sekeliling bangunan rumahnya tampak lapuk dan keropos.

Abah Oji, pria sepuh kelahiran 1943 itu bukannya tidak ingin memperbaiki rumahnya yang terancam runtuh dan bocor kalau turun hujan. Dia tidak memiliki uang untuk memperbaiki rumahnya agar dapat berdiri tegak. Jangankan untuk membangun rumah yang layak huni, bahkan untuk makan sehari-hari pun, pasangan Oji-Admiyah harus membanting tulang.

Rumah tersebut tidak memiliki sarana MCK (mandi, cuci, dan kakus). Mereka harus menapaki jalan setapak sepanjang puluhan meter untuk mendapatkan air di selokan kecil. Perjuangan untuk mendapatkan air itu cukup berat karena jalan yang mereka tempuh berada di tengah tebing yang cukup curam.  

“Abah Oji dan Ma Admiyah hidup berdua di rumah miringnya itu. Mereka tidak mempunyai anak. Pahit getirnya hidup di tempat tinggal yang tidak layak huni hanya dirasakan oleh mereka berdua,” kata Kristiawan Saputra, inisiator Sahabat Kristiawan Peduli (SKP) kepada wartawan, Jumat (15/3/2019) pagi.   

Jika hujan turun disertai angin, Abah harus mengungsi ke gubuk yang ada di samping rumahnya  karena takut rumahnya roboh.

“Puluhan pabrik yang berdiri di sekitar rumah Abah tidak serta merta membuat warga di sekitarnya sejahtera. Bahkan rumah Abah yang miring saja terlewatkan begitu saja oleh perusahaan-perusahaan besar maupun pemerintah setempat,” ujar Kristiawan.

Di KTP-nya, Abah Oji disebutkan memiliki pekerjaan sebagai pekebun/petani. Untuk menyambung hidupnya, Abah Oji berjualan daun pisang. Dia  harus berjalan sejauh 8 kilometer untuk mencapai tempat dia berjualan daun pisang. Kalau daun pisangnya laku terjual, dia hanya mendapatkan uang sebesar Rp15 ribu saja.


Menjalani masa senjanya, pasangan lansia Abah Oji dan Ma Admiyah tinggal di rumah berdinding bilik yang kondisinya telah miring.

“Meski Abah termasuk keluarga yang bisa digolongkan keluarga miskin, dia tidak mendapatkan bantuan program pemerintah seperti bantuan pangan non tunai, bahkan Abah tidak memilik Kartu Indonesia Sehat,” jelas Kristiawan.

Meski ini bukan bencana, lanjut dia, besar harapan Abah ada dermawan yang memberikan bantuan untuk memperbaiki rumahnya agar berdiri tegak, tidak miring seperti sekarang, ungkap dia. (*)