Malam Puisi Geura Wani Dibatalkan

oleh -
Ketua Umum BJI Sukabumi Raya, Budhy Lesmana dan Sekjen BJI Sukabumi Raya, Agus RS dalam acara proses tabayun dengan panitia malam puisi Geura Wani.

Wartawan Muzayin Aripin/Fitra Yudi Saputra 70

Kegiatan budaya Malam Puisi Geura Wani yang rencananya digelar malam ini dibatalkan panitia. Para penggiat budaya yang terlibat dalam acara itu menyadari, kegiatan tersebut dapat menimbulkan kotroversi. Setelah menuai protes di media sosial terkait pemuatan gambar yang identik dengan logo Gerwani dan judul kegiatan bernama Geura Wani, panitia pun memutuskan untuk membatalkan acara tersebut.

Pembatalan Geura Wani itu disampaikan perwakilan komunitas malam puisi, Muhamad Fatih dan Zainal Arif saat pertemuan tabayun di Sekretariat Kebangkitan Jawara dan Pengacara/Bang Japar Indonesia (BJI) Presidium Sukabumi Raya, Jalan Cikiray, Kota Sukabumi, Minggu (3/2/2019).

“Anggota grup malam puisi tidak menyadari kelalaian pemuatan nama kegiatan Geura Wani dan logo Gerwani untuk ikon acara. Hal ini semata-mata karena ketidaktahuan kami terhadap logo dan nama Gerwani,” ujar Fatih di depan pengurus dan kader sejumlah ormas.

Selain BJI, ormas yang terlibat dalam proses tabayun antara lain Bareta Indonesia, Kokam Muhammadiyah, Kutub, Al-Ihsas, Olokejo dan GOIB.

Rengrengan panitia malam puisi Geura Wani pada saat proses tabayun dengan sejumlah ormas membatalkan kegiatan yang telah dirancangnya sebagai agenda budaya.

Rencananya pembacaan puisi dan sharing session sejarah perjalanan para wanita di Sukabumi akan digelar malam ini. Jejak digital menunjukkan, awalnya panitia memuat flyer berlogo Gerwani. Setelah naik di salah satu mdia online sebagai media partner, logo tersebut banyak yang memprotes. Belakangan, panitia mengganti logo acara dengan foto dada wanita berbaju minim dan mata tertutup bunga.

Sementara itu Ketua Umum BJI Presidium Sukabumi Raya, Budhy Lesmana menandaskan, masalah ini harus digali lebih dalam untuk mengungapkap kemungkinan adanya kekuatan luar yang memanfaatkan para penggiat seni untuk mengenalkan kembali logo dan nama Gerwani ke publik.

“Kita harus mengansitipasi hal ini agar tidak kecolongan terhadap upaya penyebaran paham komunis melalui generasi muda yg cenderung kurang informasi terkait paham komunis dan aliran turunannya.

Proses tabayun diperlukan, lanjut dia, untuk menjaga suasana tetap kondusif. Sebabnya informasi kegiatan malam puisi yang sudah viral di medsos ini melahirkan persepsi beragam. “Kami bersyukur pihak panitia telah membatalkan acara sehingga kekhawatiran munculnya gerakan massa yang kontra terhadap acara tersebut bisa diantisipasi,” tutur alumnus Ponpes Tebuireng Jombang dan IAIN Sunan Gunung Djati Bandung ini. (*)