Petani dan Tengkulak Pasrah, Harga Cabai Merah di Cidadap Anjlok

oleh -
Walaupun harga cabai merah jatuh bebas, para petani dan pekerja di tempat penampungan hasil pertanian di Kecamatan Cidadap, Kabupaten Sukabumi tetap bekerja keras untuk mengirimkan komoditas tersebut ke luar daerah dan luar pulau.

Wartawan HAMZAH JAMPANG

Stok cabai merah di sentra pertanian dan pasaran yang melimpah ruah memicu anjloknya harga komoditas hortikultura itu anjlok. Di wilayah Kecamatan Cidadap, Kabupaten Sukabumi, sudah beberapa minggu ini, harga jual yang diterima petani terjun bebas hingga ke titik Rp4-5 ribu perkilogram. Dengan harga jual sebesar itu, para petani tidak dapat menikmati keuntungan dari masa panen cabai merah.

“Harga cabai merah lagi turun, melorot hingga kurang dari lima ribu rupiah perkilogram. Sekarang ini jangankan dapat untung, untuk kembali modal pun rasa-rasanya tidak bisa,” kata Epong, seorang petani cabai merah di Cidadap, Selasa (19/2/2019).

Faktor penyebab turunnya harga cabai merah, ujar Epong, adalah stok yang melimpah karena musim panen datangnya bersamaan. Epong dan rekan-rekannya telah berhitung, mereka tidak dapat meraih pendapatan yang dapat menutup biaya produksi.

Berdasarkan mekanisme pasar dan hukum persediaan-permintaan, tingkat harga cabai merah itu ditentukan oleh kelompok pengepul atau tengkulak. Para petani tidak menjual produk pertaniannya langsung ke pasar induk di kota-kota besar karena lebih nyaman melalui jalur tengkulak.

Rantai penjualan cabai merah seperti itu tidak lepas dari jalinan simbiosis mutualisme antara tengkulak dengan para petani yang sudah terbentuk sejak lama. Umumnya, para petani tidak mempunyai modal untuk menanam cabai merah. Mereka mendapat pinjaman modal dari tengkulak. 

“Karena sudah dikasih modal, menjualnya juga harus ke tengkulak yang memberi pinjaman modal dengan harga sesuai perkembangan pasar,” jelas Epong.

Bekerja sama dengan tengkulak, bagi para petani cabai merah memberikan rasa aman. Selain dijamin dari segi permodalan, para petani juga akan terhindar dari risiko barang rusak di tempat penyimpanan atau dalam perjalanan mengingat cabai merah termasuk hasil pertanian yang cepat membusuk. 

Sementara Ira,  salah seorang pengepul hasil pertanian menyatakan, saat ini dia mengalami kesulitan dalam menjual hasil panen cabai merah dari petani karena persediaan terus bertambah.

“Di Kecamatan Cidadap saja pada musim panen bisa dihasilkan 40 ton cabai merah perharinya. Kalau hitungan hasil panen mencakup satu kabupaten, produksi cabai merah bisa mencapai ratusan, bahkan ribuan ton saban hari. Karena stok sedang tinggi-tingginya, saya kesulitan menjual cabai merah ke pasar terdekat,” ujar Ira.

Guna mencegah cabai merah tidak terjual, Ira mengirimkan komoditas yang digemari karena rasa pedasnya itu ke Jakarta, Bogor, Tangerang, Palembang, dan Jambi. Setiap hari di pertigaan Jalan AMD Cidadap tampak pemandangan yang khas. Di sana berkumpul  puluhan truk ekspedisi berplat nomor polisi K, BG, BE, dan Z yang akan membawa cabai merah ke berbagai daerah dan luar pulau.

“Saya mengirimkan cabai merah ke Jambi dengan biaya pengiriman 7 juta rupiah untuk satu truk dengan berat muatan sekitar 4 ton cabai merah. Hal ini saya lakukan karena pasar terdekat sudah kelebihan stok,” ujar Ira. (*)